![]() |
| Keterangan Foto : Nasyiatun SalsabilaaRahma, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lancang Kuning. |
Dumai, SelayangNews.com - Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hampir semua orang bebas menyampaikan pendapat melalui kolom komentar. Sayangnya, kebebasan tersebut sering disalahgunakan.
Tidak sedikit orang yang merasa berani menghina, mengejek, bahkan mempermalukan orang lain karena merasa aman di balik layar.
Perilaku seperti ini dikenal dengan istilah cyberbullying. Banyak yang menganggap komentar kasar hanyalah candaan atau bentuk kejujuran, padahal dampaknya bisa sangat besar bagi korban.
Menurut saya, kebiasaan memberikan komentar pedas bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, karena tidak semua orang mampu menerima kata-kata yang menyakitkan.
Cyberbullying dapat terjadi kepada siapa saja, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga tokoh publik.
Bentuknya pun beragam, seperti menghina fisik, menyebarkan rumor, memberikan komentar kasar, atau sengaja mempermalukan seseorang di media sosial.
Hal yang paling disayangkan adalah banyak pelaku menganggap tindakannya sebagai hiburan atau sekadar ikut-ikutan.
Contoh nyata yang sering saya lihat yaitu ketika seorang siswa atau mahasiswa mengunggah hasil presentasi, karya, atau video di TikTok maupun Instagram.
Bukannya mendapat masukan yang membangun, justru muncul komentar seperti, "Norak banget," "Mending jangan upload," atau hinaan terhadap penampilan.
Mungkin bagi penulis komentar itu hanya kalimat biasa, tetapi bagi korban, komentar tersebut bisa membuat rasa percaya dirinya turun. Bahkan ada yang menjadi takut berkarya karena khawatir akan dihina lagi.
Fenomena serupa juga sering dialami figur publik. Saat melakukan kesalahan kecil, kolom komentar langsung dipenuhi hujatan tanpa memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Padahal, kritik bisa disampaikan dengan bahasa yang sopan. Tidak semua kritik harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan.
Menurut saya, salah satu penyebab cyberbullying adalah kurangnya empati. Banyak orang lebih mudah mengetik kata-kata kasar dibandingkan membayangkan
bagaimana perasaan orang yang membacanya. Padahal, etika dalam berkomunikasi tetap berlaku meskipun dilakukan melalui media sosial.
Untuk mengurangi cyberbullying, setiap pengguna media sosial harus mulai lebih bijak sebelum berkomentar. Biasakan berpikir terlebih dahulu apakah komentar tersebut bermanfaat atau justru menyakiti orang lain.
Sekolah, kampus, dan keluarga juga perlu memberikan edukasi mengenai etika bermedia sosial agar generasi muda memahami batas antara kritik dan perundungan. Jika melihat atau mengalami cyberbullying, jangan ragu melaporkan akun pelaku dan mencari dukungan dari orang terdekat.
Komentar pedas belum tentu keren. Justru orang yang mampu menyampaikan pendapat dengan sopan menunjukkan kedewasaan dalam menggunakan media sosial.
Dunia digital akan menjadi tempat yang lebih nyaman jika setiap orang saling menghargai dan menjaga ucapannya.
Sebelum menulis komentar, ada baiknya kita mengingat bahwa di balik setiap akun, ada manusia yang juga memiliki perasaan.
Referensi :
❖ APJII. 2024. Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
❖ Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. 2024. Modul Literasi Digital. Jakarta.
❖ UNICEF Indonesia. 2023. Perundungan Siber (Cyberbullying)
pada Anak dan Remaja.
Editor : Redaksi
